HOME

Selasa, 20 Mei 2008

labirin

kaki kecilku melangkah tertatih
menyusuri terjalnya jurang kehidupan
meniti jembatan zaman
berlari di dalam labirin kemiskinan

aku berfikir
dengan hati kalut, yang lebih ribut dari pakaianku yang kusut
inikah peradaban atau ini adalah kebiadaban

tapi biarkan penggal-penggal ritmis ini tetap
karena penderitaan akan menjadi lebih puitis

lepas

bukan karena kemukus atau cirus
diri hanya menuju pada kepastian hakiki
bercerai dengan wadag terhina
menari bebas di alam abadi

aku telah lepas membebaskan diri dari pancaroba kehidupan
memutus continuitas reinkarnasi
menjadi diri yang sejati

1/3 malam

laksana peri dimalam hari
telanjang memancarkan wangi
menggoda kekasih untuk bercumbu
mengajak jiwa bersatu

memanggil pada setiap aku
berbicara dalam kebisuan beku
merayu menawarkan tubuh
kenikmatan yang belum tersentuh

siluet cinta

menguap, mencair, mengembun dan jiwapun membeku
merah telah memerah darah
hangat, menghangatkan lalu membunuh
tanpa mengaduh, tanpa rikuh
mengharu biru
hitam kini makin legam, makin suram, makin menenggelamkan
namun ketika jingga memancar membentuk siluet cinta
jiwapun terlena dalam fatamorgana, surga