HOME

Selasa, 14 April 2009

KADO

Telah kuuntai kata-kata,

Seperti aku merangkai bunga tanda duka cita

Pada renda-renda jelas terbaca :

“semoga kau bahagia”

jangan kau masukkan hati

Dengan Siapa Aku ber-Cinta

“CINTA” adalah sebuah kata sakti, memiliki multi definisi, dan seringkali membuat sakit hati. Tapi di sini, dalam tulisan ini, aku akan mengatakan bahwa cinta adalah ketergantungan, seperti saat kita kecanduan ekstasi. Tanggung jawab yang harus dipegang sampai mati. Dan sebuah dorongan dari dalam diri untuk selalu ingin melebur dan memiliki.

Saat manusia sedang jatuh cinta, maka dirinya akan kehilangan segala daya dan akal sehatnya. Tidak semua orang memang, tapi, sebagian besar, YA!

Dalam sebuah dunia perenungan,

aku menemukan bahwa cinta adalah sebuah hakikat tertinggi.

Dalam sunyi aku mengerti bahwa hampa, tidak ada.

Dimensi cinta tidaklah terletak di otak, tidak di raga. Melainkan di hati,

di rasa. Karena itu, cinta tidak pernah bisa dilogika

tidak pernah ditemukan dalam fisika.

Kehampaan itu sebenarnya tidak pernah ada. Hal ini bisa dibuktikan dengan mudah, misalnya; jika kita melihat pada ruang – di atas – samudra, kita tidak akan menemukan apa-apa kecuali biru yang menghilangkan cakrawala antara langit dan samudra.

Akan tetapi,

Tetap saja ada angin, salah satu zat paling absurd yang pernah ada. Atau,

Jika kita mengunci rapat sebuah ruang dan mengeluarkan udara dari padanya, maka akan tetap saja ada kegelapan yang gulita.


CINTA SEBAGAI FITRAH MANUSIA

Dalam sejarah manusia, cinta telah dikenal sejak manusia pertama ada. Seorang Adam begitu mengharapkan Hawa meski dia belum pernah tercipta. Maka,

menjelmalah wanita menjadi makhluk indah luar biasa, karena

mereka memang terlahir dari perasaan cinta. Lalu,

lahirlah Qobil-Iqlima,

Habil-Labuda, hingga

kini giliran kita.

ANTARA CINTA DAN NAFSU

jika kau mengatakan, “cinta tak harus memiliki.” maka, kau pasti sedang berdusta. Sadarilah, bahwa cinta adalah sebuah dorongan yang muncul dalam diri untuk melebur dan saling memiliki.

Dengan wanita kita senggama,

dengan orang tua kita berbagi suka-duka, dan kepada-Nya kita menghamba.

Tapi,

seberapa sering kita tertipu oleh nafsu

Memang benar bahwa nafsu adalah bagian dari cinta.

Nasfu yang telah ditundukkan, untuk mengharap ridlo-Nya.

CINTA MILIK SIAPA

Aku adalah manifes dari sebuah kehendak

kehampaan yang terlihat begitu nyata

Sidharta berkata, “isi adalah kosong, kosong adalah isi,” kalimat ini adalah sebuah kalimat yang begitu fenomenal, dikenalkan pada kita melalui sinetron laga “kera sakti.” Sebuah kalimat yang merupakan penyingkapan hakikat hidup dan jatidiri, rangkaian kata yang melewati ruang dan batas religi. Bila benar-benar diresapi.

Selasa, 24 Juni 2008

SRI

sri telah pergi meninggalkan aku
kabur bersama kemarau durjana
meninggalkan tandus bersama debu
meninggalkan tubuh yang makin kurus
makin layu

ranting itu aku

aku adalah ranting yang rapuh
maka jangan kau gelanyuti aku dengan sepenuh hatimu
karna mungkin aku akan patah
atau bahkan runtuh dan takkan bisa kau gelanyuti lagi
berserak di tanah menjadi sampah
membusuk,
dan takkan lagi bisa menjadi tempatmu berteduh

Selasa, 20 Mei 2008

labirin

kaki kecilku melangkah tertatih
menyusuri terjalnya jurang kehidupan
meniti jembatan zaman
berlari di dalam labirin kemiskinan

aku berfikir
dengan hati kalut, yang lebih ribut dari pakaianku yang kusut
inikah peradaban atau ini adalah kebiadaban

tapi biarkan penggal-penggal ritmis ini tetap
karena penderitaan akan menjadi lebih puitis

lepas

bukan karena kemukus atau cirus
diri hanya menuju pada kepastian hakiki
bercerai dengan wadag terhina
menari bebas di alam abadi

aku telah lepas membebaskan diri dari pancaroba kehidupan
memutus continuitas reinkarnasi
menjadi diri yang sejati

1/3 malam

laksana peri dimalam hari
telanjang memancarkan wangi
menggoda kekasih untuk bercumbu
mengajak jiwa bersatu

memanggil pada setiap aku
berbicara dalam kebisuan beku
merayu menawarkan tubuh
kenikmatan yang belum tersentuh