Dengan Siapa Aku ber-Cinta
“CINTA” adalah sebuah kata sakti, memiliki multi definisi, dan seringkali membuat sakit hati. Tapi di sini, dalam tulisan ini, aku akan mengatakan bahwa cinta adalah ketergantungan, seperti saat kita kecanduan ekstasi. Tanggung jawab yang harus dipegang sampai mati. Dan sebuah dorongan dari dalam diri untuk selalu ingin melebur dan memiliki.
Saat manusia sedang jatuh cinta, maka dirinya akan kehilangan segala daya dan akal sehatnya. Tidak semua orang memang, tapi, sebagian besar, YA!
Dalam sebuah dunia perenungan,
aku menemukan bahwa cinta adalah sebuah hakikat tertinggi.
Dalam sunyi aku mengerti bahwa hampa, tidak ada.
Dimensi cinta tidaklah terletak di otak, tidak di raga. Melainkan di hati,
di rasa. Karena itu, cinta tidak pernah bisa dilogika
tidak pernah ditemukan dalam fisika.
Kehampaan itu sebenarnya tidak pernah ada. Hal ini bisa dibuktikan dengan mudah, misalnya; jika kita melihat pada ruang – di atas – samudra, kita tidak akan menemukan apa-apa kecuali biru yang menghilangkan cakrawala antara langit dan samudra.
Akan tetapi,
Tetap saja ada angin, salah satu zat paling absurd yang pernah ada. Atau,
Jika kita mengunci rapat sebuah ruang dan mengeluarkan udara dari padanya, maka akan tetap saja ada kegelapan yang gulita.
CINTA SEBAGAI FITRAH MANUSIA
Dalam sejarah manusia, cinta telah dikenal sejak manusia pertama ada. Seorang Adam begitu mengharapkan Hawa meski dia belum pernah tercipta. Maka,
menjelmalah wanita menjadi makhluk indah luar biasa, karena
mereka memang terlahir dari perasaan cinta. Lalu,
lahirlah Qobil-Iqlima,
Habil-Labuda, hingga
kini giliran kita.
ANTARA CINTA DAN NAFSU
jika kau mengatakan, “cinta tak harus memiliki.” maka, kau pasti sedang berdusta. Sadarilah, bahwa cinta adalah sebuah dorongan yang muncul dalam diri untuk melebur dan saling memiliki.
Dengan wanita kita senggama,
dengan orang tua kita berbagi suka-duka, dan kepada-Nya kita menghamba.
Tapi,
seberapa sering kita tertipu oleh nafsu
Memang benar bahwa nafsu adalah bagian dari cinta.
Nasfu yang telah ditundukkan, untuk mengharap ridlo-Nya.
CINTA MILIK SIAPA
Aku adalah manifes dari sebuah kehendak
kehampaan yang terlihat begitu nyata
Sidharta berkata, “isi adalah kosong, kosong adalah isi,” kalimat ini adalah sebuah kalimat yang begitu fenomenal, dikenalkan pada kita melalui sinetron laga “kera sakti.” Sebuah kalimat yang merupakan penyingkapan hakikat hidup dan jatidiri, rangkaian kata yang melewati ruang dan batas religi. Bila benar-benar diresapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar